MONOLOG

YESUS DI SALIB

Monolog KARYA ; DEKY SEO, 09 april 2010

 

ya…ya…ya…iya…ya…aku tau, lalu kenapa kau menampar dia, tapi bagaiamana mungkin….akh sudah memang dasar bejat, aborsi itu pembunuhan…!

halow…apakah ini dengan Yesus,

ya benar aku Yesus, bagaimana ada yang bisa aku bantu….. ?  apa,  lapar…? lalu itu bukan milikmu…(TERTAWA) itu mencuri namanya nak….tidak…!

BUNYI LONCENG ;

oh, ini hari istirahat. pak koster tentu sudah mulai  memanggil anak–Anak-Ku beribadah…hah…setiap hari berjuta – juta orang meneponku  minta pertolongan, aku  tau ada yang benar–benar membutuhkan pertolongan, tapi ada juga yang memanfaatkan pertolonganku  sebagai upaya mendapatkan uang…..!

huh…coba dengar, yah, suara itu masih jelas sampai sekarang, itu suara seorang wanita pelacur yang setelah dikibuli oleh pasangannya,  ia dicerca, diolok–olok,  lalu pergi  tanpa memberi satu persen pun…!............sudah dua hari ini ia terus menangisi dirinya sendiri….., aku memahami perasaanya dan aku tau ceritanya;

dulu, ia adalah bunga didesanya. ketika pagi menjelang, burung–burung lagi asyik bersendagurau menyambut matahari, ia sudah bangun membersihkan gereja dengan tulusnya…! Tanpa merasa lelah  ia korbankan raganya yang kuat dan cantik itu untuk memangil orang–orang datang ke gereja…..ia bunga….bunga desa dari desa yang ramah dan sejahtera. Semua lelaki kepingin dapatkan senyumnya….maka disuatu siang, datanglah si lelaki parlente…..ia mengenakan jas hitam, terbuat dari kain bermutu….mengenakan kacamata reiben, berlagak sebagai donator kaya….mengajaknya ke kota; “mari dik, ‘kan ku berikan emas, jika susu yang kau minta….’kan kuberikan madu jika susu yang kau minta……aku bukan lelaki jalang seperti yang kau kira…..” ACT.TERTAWA. Dan ia pun berpamitan pada ibunya yang renta….sepatah doa terucap buat bunga rumah yang abadi itu…restu itu membuat ia bergegas ke kota, tinggalkan dinding kumuh tanpa kamar mandi…..di kota ia dapati langkahnya bagaikan makan biji mahoni….tiap hari ia ditampar deru mobil mewah dan asap–asap  cerutu yang menggiurkan bagai madu batu dari Semau…..lelaki itu menjualnya dengan harga mahal, tanpa memberi ia satu sen pun……………..hingga disuatu senja, tiba–tiba ia mengerang kesakitan…..raja singa menyerangnya….oh….sakit itu mencercanya sebagai wanita jalang……..deru mobil kembali menyirami  tinja sebagai pewangi………… maka ia memilih pulang kampung. Sesampainya di kampung, orang–orang melemparinya dengan berkata ; “kucing laknat, wanita murah, jangan lagi kau mandi di sungai ini supaya seisi kampung jangan kena tulah….” ACT.MENANGIS. “Tolonglah, saya mabuk asmara waktu itu, sehingga tak sempat menanam bunga bagi kalian. Tapi percayalah aku ingin kembali walau aku sampah, aku ingin kembali walau aku kena tulah….” JEDA. Nah…..Sekarang erangan suaranya itu kembali terdengar. Air matanya menikam–nikam bumi, sementara darah hitam yang keluar dari lukanya keburu melukis langit dengan gemasnya.

Ada lagi cerita lain.

tadi pagi aku ke pasar inpres, ketemu seorang sahabat lama; ach…..dulu ia bersamaku mengembara di hutan–hutan Amarasi, mencari jualannya untuk dijual di pasar. Sekarang usianya sudah renta, dia bilang;

“sahabatku, beberapa hari terakhir ini, aku bertemu dengan orang–orang aneh……bayangkan, aku membeli papaya dengan harga 25.000, lalu ku jual dengan harga 27.000. eh, dia tawar dengan harga 15.000 – aku bilang; sudah, ambil saja dengan 26.000 rupiah, biar aku untung 1000. dia bilang ; “ dasar pembohong ! pepaya ini kan bukan kamu yang tanam. Tidak dikasi air dan sebagainya, lalu dia  hidup atas perjuangan sendiri, mendauni batangnya dengan daun – daun hijau, sekarang kamu jual dengan harga selangit, daun–daun yang pernah tumbuh di tubuhnya, telah kau kuras dan singkirkan lalu kau jual padaku hanya satu buah, itu pun dengan harga yang selangit, apa pantas….aku ini pencinta alam…………Aku hanya menggeleng – geleng kepala penuh pertanyaan.  Otakku waktu itu berputar–putar seperti air di muara yang menari kian kemari mencari jalan keluar………lalu, yah……..lalu kutanya padanya; yah, tapi ini untuk apa…? Spontan ia menjawab ; yah untuk apa kalo bukan untuk makanan babi…! Aku merasa ini penghinaan, pengkhianatan….! ACT.MENANGIS. Lalu apa yang kau bilang padanya. Yah, aku hanya bilang, aduuuuh, keuntunganku nyaris tidak ada. Trus anaknya menghambur diatas seluruh jualanku, dan yah….lalu katanya ; “Kamu tak punya belas kasihan, dasar tengkulak, maunya untung sendiri…. ! ACT.MELUDAH.  sepanjang ceritanya ia  menangis. aku terenyuh….lalu kubilang padanya; “ kamu harus tertawa, karena dia tidak sampai memukuli, bahkan membunuhmu….toh, hanya diludahi kan…?” Tapi itu penghinaan…..bagaimana mungkin aku harus bersyukur ketika aku berada dalam himpitan yang luar biasa….itu penghinaan…!“ yah, maksudku, bila seisi ruanganmu sungguh terlalu kepanasan, maka bayangkanlah bahwa kamu sedang berada dalam daerah es yang dinginnya mencapai nol derajat….sehingga kamu bisa lebih tenang dan mampu berfikir positif, karena itulah maka kamu dapat disebut penguasa bumi…! Dan dalam ketakberdayaan itulah orang itu katakan ; Oh…..mungkinkah…?

 

BUNYI TELP.

halo….yah…betul…apa…? Tuhan tolonglah, aku ingin menikah dengan jantung hatiku…..tapi kamu sudah menikah….Ya Bapa….trus, kawin lagi….itu pengkhianat nak…! Dan semua suara menggemuruh di telingaku tiap secon….!

Aku juga pernah menyaksikan begitu banyak orang mau jadi terkemuka, dan berkata ; “ merdeka…!  Merdeka…! kalian rakyat jelata, marilah makan daging melata, jangan pedulikan hidup sengsara, utuslah aku yang mengembara, karena aku anak negeri yang paling tau penderitaanmu…!” Dan setelah itu, mereka mulai mencacimaki  rakyatnya, dengan ludah pahit mereka minumkan airmata para pengungsi, orang – orang yang digusur karena jalur hijau dan membungkus sisa makanan sahabatnya lalu disuguhkan sebagai nasionalisme. Oh….hatiku sungguh teramat pedih…! Aku ingin sepiiii…….aku ingin sepi…!

Dan dalam kesepianku itulah makin nyata terdengar, betapa rakyat negeri itu berteriak minta tolong ;

“ Tolong hentikan madu busuk itu. Jangan lagi kami kenyang dengan sumpah serapah, sebab masa depan yang kami butuhkan, bukan makanan hari ini. Anak – anak kami harus kuat berlari tujuh mil jauh ke depan…..bukan tertahan kekenyangan semu yang diberikan orang – orang hina itu…! “  Keluhan–keluhan seperti ini selalu mengiang–ngiang di telingaku. Aku berusaha untuk biarkan mereka berlari bermil – mil jauhnya dapati  sepenggal nafas yang ku titipkan pada mereka …….

Tapi lihatlah,  saudara–saudaraku, di bumi di sana, berjuta keluh kesah terus membawa tariannya dengan music yang sungguh tak dapat dipahami. Kalian memang pemusik, tapi music kalian music kelicikan…..

Halow….ya, aku sendiri….ya, terimakasih….!

Haloow….haloow…haloow….

Dan sementara aku menerima telefon–telefon itu, tiba–tiba pintu rumahu; “  tok…tok….tok…tok….tok….hei penjahat, keluar kau…! kau telah menghasut bangsa kami dengan ajaran – ajaranmu yang palsu….” . Aku hanya bilang, bahwa manusia harus cepat mengalah dan melihat segala sesuatu dari sisi yang postif saja…..bukankah itu ajaran yang diajarkan dalam hukummu…? Dan saat itulah aku di tampar, tapi aku tidak kecewa….Justru itulah aku datang, hanya mungkinkah orang–orang mau menerimaku lagi….? Dengarlah…! suara mereka mulai menggemuruh dan akan datang mencerca nafas keabadianku…! Oh…ya….aku harus bersemedi di bukit sana…..ACT. BERMAIN GITAR/BIOLA. Haloow….ya, betul…kenapa…dia memperkosamu…? oh…ha…ha…ha…tertawalah nak, waktunya sudah dekat…! Haloow…halo…ini dengan siapa…sudahlah…kamu jangan kuatir…!.........Dan malam itu sungguh sepi……aku berfikir, bahwa hanya aku dan rinduku yang berada dalam taman itu. Aku juga mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes menemaniku…saat itupun telfonku masih berdering, tapi bukan melapor bahwa akan ada penangkapan terhadapku…..Aku membisu sejenak lalu berkata pada  sahabat–sahabatku itu;  “Tinggallah kalian disini dan berjaga–jagalah denganku, aku akan menuju gunung penuh pergulatan. Kesedihan mulai menari–nari dimataku membentuk peta yang  bercahaya….aku harus  bergulat lagi…!” Lalu aku kembali hingga dua kali dan memang kudapati hanyalah nyanyian sepi yang menyiksa segenap bathinku…..juga kudapati mereka sedang menari disorga yang mereka bangun sendiri….tak kudapati sahabat – sahabat ku disana. Aku tak mendapatkan mereka lagi….mereka lelah dan tertidur diatas lagu – lagunya sendiri….dan aku saksikan bahwa  lagu – lagu itu penuh dengan duri…..sungguh tajam menikam jiwa yang rapuh….aneh…mereka dapat bertahan untuk sebuah tidur yang tajam…..! Ku tatap mereka satu per satu…yah…aku terus menatap mereka…dan memang  kudapati, betapa mereka begitu mudah tergila – gila dengan tajamnya tempat yang mereka tidur….Kembali aku bicara dengan Bapaku, kali ini dengan segala daya aku bilang ; “ Ya Bapa, jikalau memang makanan pahit ini harus tinggalkan nelangsa hidup manusia, aku siap…! “

Ku akui saat itu hatiku begitu pedih….sungguh pedih….! kepedihanku kali ini melebihi segala kepedihan yang dialami manusia lain, hingga semua pembuluh darahku pecah…dan…oh….aku tak dapat membayangkan tiap tetes dari keringatku berbaur dengan darah dari nadiku itu….. dan aku mulai digiring menuju sebuah singgasana yang penuh kehinaan…….Sepanjang perjalananku masih kudapati ada peperangan antar saudara, ada pasangan bawah umur yang berhubungan sex sebelum menikah, ada pula yang mengusir ibu kandungnya keluar dari rumah keabadian mereka, saling mencerca, mencuri, menghina satu terhadap lainnya…..yah….aku saksikan birahi itu dengan kedua mataku sendiri………ACT……………………..Aku terus digiring kesana berhadapan muka dengan muka............

 

Sekarang  kuminta semua mematikan lampu...…yah…mematikan lampu…….maksudku…coba semua mematikan lampu…baik, terimakasih…Nah, kegelapan seperti ini yang akan kalian alami ketika aku menuju Golgota. Disana nyaring suaraku memberontak, berusaha untuk dapatkan saklar yang menjadi tombol penentu, untuk dapat menyalakan semua lampu – lampu hati yang gelap. Dengarlah, suaraku mengguruh :

 “ Eloi…Eloi….Lama sabachtani…!”

Dia memanggil Elia. ACT.TERTAWA. Apakah Elia akan datang menjemputmu….? Kami akan tunggu sampai kereta Elia datang ya, Putra Agung….Ha….Hae…tolong ko sadar….ACT.MELUDAH.

Disaat  mereka menertawaiku, kamu akan dapati bahwa kamu mampu menyalakan satu titik lampu kehidupanmu….Dan dengarlah…utuh suaraku menggema bagai raungan binatang buas yang manja mencari ibunya hingga ajal menjemput…….: “Ya Bapa, kedalam tanganmu, Aku serahkan nyawaku….!“

SELESAI


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI bertema COVID 19