PUISI bertema COVID 19

AKU MAU MENULIS LAGI 
Karya: DEKY SEO

 

Hari ini aku kan menulis puisi
Tentang asmara
Dan pertapaan dunia
Tak juga lupa
malam kelam
api lebam
Ibadah karam....
Ku tulisi malam
Bersama bukubuku laci
gelas minum bening berpeci
Jelitik anak anak
Belatung pelastik nan banci 
COVID sembilanbelas menggelitik
belalas koruptor...
sendagurau nasib 
Gelisah di atas kertas
Sebagai jalan penuh beluntas
Bila hari usang 
Kokodidok tak jua berkelitik
matahari tak lagi berbisik
kubawa semua 
pada kosmos asa 
rembulan tua 
menuliskanpuisi
jejak.....
kata..... 
benalu... 
nafsu politisi.....
Korupsi...
Bansos......
Hingga biji angin patah
Apaapa pun.. !

 

Hari ini aku mau menulis puisi 
Aku mau menulis lagi...
Bersama rembulan, angin, 
Sepi dan corona...

Timor Barat, Juni 2020

 

 

 

 

 

POLITISI
karya : DEKY SEO

 

Di bawah pohon tuak
Ia menangisi rambut bermofak
Yang tumbuh tiap detik 
Bersama tunggakan pajak

Di perut bangsa yang muak 
Semua angin menggigit waktu 
Gemas lidah penipu
Bagai jenuh pemulung membisu 
Ia bergumam; 
"mereka ini jadi aset beku 
Seperti tawa benalu"

 

Di bawah pohon tuak 
Matanya kalap dalam jeluk 
Menyelinap sebagai virus busuk
Meremas nasib rakyat yang khusuk
Di bawah mimbar gereja 
peluh hati memeluk
Butiran doa tiap detik, 
Tak berkutik....!
Dan ia bergumam ; 
" mereka ini pembawa petaka 
Mesti jadi pusaka ...
Karena dalam jiwa jelangak 
Nasib mereka dalam belanga
Kan Punah penuh jenaka..."

 

Di bawah pohon tuak 
Ia asyik berdoa 
Saat malam mulai beruban 
Menahan matahari ringkih 
Dalam doa tak bertasbih 
Ia terus menjelajah perut pelacur 
Lalu bergumam ; 
" Keringatmu, juangku
Di atas tawa benalu 
Covid itu asetku ...!
Rakyatku....biarkan ia tumbuh ...!
Di atas riak masker disinfektan 

Nah, 
antara pohon tuak bermofak
Perut bangsa yang muak 
Mata lelap dalam jeluk
Juga doa di bawah mimbar 
Adalah Corona virus....
menusuk hingga waktu lelah berfikir......!

Huh....duhai....!

Timor Barat, 25 Mei 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Doa pagi 
Karya ; DEKY SEO

 

I

 

Ya Tuhan
Dari kamar mandi kurang sehat
Gigi belum sikat 
curahan dosa karatan lekat
aku datang

 

Maaf, 
pagi ini aku payah menatang
penipuanku tiap rentang 
dari alasan banyak urusan
Hingga nafas keluh bosan 
Aku datang

Karena 
seperti biasa
Saat malam berbisa 
Aku sibuk bernafsu 
Menata malam berlagu 
Puasa berlalu

Nah,
Aku baru saja pulang 
Bersama dosa berkeranjang
Bawa aroma bir 
Lipstik di dahi seperti petir
Menyambar nafas getir 
Waktu dihotel

Tuhanku,
Tolonglah..
Aku payah
Tak sempat mandi 
Tulang sendi 
Pun ringkih bersemedi


Aku tau
Kau Tau....
Aku tau
Kau mau....
Bila pagi begini 
Kau ambilkan aku kopi 
Hibur hati dalam topi 
kelitik khasMu pagi 
Milikku kini...

 

II

 

ya Tuhan.. Tuhanku..
Dan ketika matahari merawat gigi 
Semua orang menggali perigi
Bagi dosa bergerigi

Duh Tuhan,
Aku pun belum berniat 
Ikuti pesta purnama 
Rias cakrawala,
rancangan-Mu saat hujan lebat 
Hitam pekat...

Maaf, aku terlambat 
Umumkan tobat 
Seperti senyap selimuti 
Murka-Mu putih

Ya Tuhan
Dengar teriakku 
Keluh berduri 
salib berdiri
Keluh berduri 
Iblis pun bunuh diri

Maka 
Pagi ini 
Aku datang pada-Mu 
Ya Tuhanku....

 

 

III

 

Tuhan,
Aku masih disini
Berdiri sebagai bunga yang hampir layu di atas karang
Bila pagi seperti ini datang lagi padaku
Maka nyanyian burung lakamolak yang datang menyergap tidur pulasku
Seperti menelanjangi semua mimpiku bahwa;

 'Nama-Mu Tuhan lebih dari bunga bunga mekar "

Dan bila pagi seperti ini datang lagi padaku
Sementara aku sedang berbelanja di pasar,

menggenggam beberapa makanan busuk dan kurus padi
Aku jadi ingat padaMu bahwa ;

" Kau melebihi kemegahan gunung Fatule'u

dan hutan hutan ampupu

dan menelanjangi tangisku akan jalanan aspal berbatu "

Tuhan,
Jika pagi seperti ini datang lagi padaku
Dapatkah bunga bungaMu mekar dalam pagiku agar terbuang semua lelah?
Ataukah Kau sengaja biarkan tertawaku menghentak jiwa

yang lama tenggelam dalam malam....
Duh Tuhan
Aku ini milikMu
Yang cenderung lupa bahwa Kau sahabatku sejati
Yang tiap pagi membeberi PU'U dan ubikayu segar buat perutku yang nakal
Dan Tuhan
Aku masih di sini sebagai anakMu yang menangis takut kalau kalau Kau menjauh dariku,
Aku masih disini Tuhan,

 

 

Timor Barat, 22 Mei 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LELAKI TANPA SENJA
By. DEKY SEO 
Puisi untuk dokter yang meninggal karena covid(24042020)

 

Aku ingin mencakar langit dalam luka
Agar semua sajak tertegun dan menarik nafas panjang sambil berkata :
"lelaki jahanam tanpa senja"

Aku ingin menulis cerita cakrawala 
Biar semua waktu berdiam sebagai balada 
Dan nada duniawi tersiksa 
Pun bathin berbisa..... 
Tak perkasa....

Akulah Corina.....corini....dan coronaaaa
Datang bersama 
Letupkan korupsi, nepotisme 'tuk berlaga
Bungkam doa cakrawala 
Dari lelaki jahanam tanpa senja

Biarkan aku menulis diatas luka 
Agar semua angkuh berbisa
Tak lagi menuduh pusara 
Sebagai mulut penuh busa....

Dan ketika waktu berhenti sebelum senja 
Aku kenakan baju birumuda 
membatangi langit dengan kaki awan 
Saat "Na'i uma" menangisi kebun 
Hatinya Jelanga

Maka
anakku datang ke gereja 
Bicara pada biara
Batangairmataku kan menerjang 
Baiklah, hidup juga doa 
Sekejap mata berdaya 
Menatap waktu 
Berlari ntah kemana....

 

Timor Barat, 28 April 2020

 

 

 

 

 

 

 

Untuk lebah yang hilang 
Puisi DEKY Seo.

 

Biasanya pagi pagi begini 
Kau tersenyum diantara tuanggik yang satu ke tuanggik yang lain 
Biasanya pagi pagi begini 
Suaramu Mengayuh matahari dan lelapkan matanya lalu aku dan seisi rumahku menikmati kebiasaanmu 
Biasanya pagi pagi begini 
Tidak seperti pagi ini 
Kau telah lelah bernyanyi 
Dan datang padaku 
bawakan sepenggal sajak kesukaanku 
yang pernah kita ucapkan dulu 
Lalu beberapa anakmu 
tarikan tarian penuh sukacita... 
Tapi pagi ini 
Tidak seperti biasanya 
Aku melongoh ke bebak tuak 
Mataku berpencar mencari titik bayangmu 
Tak kudapati seperti biasanya.... 
Entah.... 
Biasanya ketika aku sedang menulis seperti ini 
Kau membisiki rindu dekat bathinku
Dan aku yang kesepian mulai .....
Tapi pagi ini
Tidak lagi seperti biasanya 
Tidak lagi seperti biasanya 
Tidak... 
Tidak lagi seperti biasanya 
Entah... 
Lantaran dunia sedang sibuk menjahit... 
Ataukah merancang pembunuhan berikut dengan cara yang lebih halus... 
Entah... 
Lantaran waktu telah digilas nafsu 
Ataukah kuasa kian ganas memburu 
Entah... 
Lantaran laut tak lagi bergelora 
Ataukah bintang corona merona 
Entah... 
Tapi biasanya pagi pagi seperti ini 
Aku belum habiskan kopi ku, pagi... 
Yah... biasanya ...

Medio,18 April 2020

 

DOA SEORANG YANG MENDERITA (virus c19*)
Puisi karya : DEKY SEO.04-04-20

 

Ya Tuhan, ya Allahku 
Dari dinding kumuh 
dan sampah -sampah plastik 
yang terhambur di sini....
Aku datang sebagai kembang layu 
Terduduk dibawah pohon sepe 
Merenung bersama seduh bangsa bangsa 
Karena pembunuhan ini

Dari rumputan kering, 
Tenggorokan berduri 
Dan mata pedih 
Aku datang sebagai domba 
Yang pernah memyirami -Mu air keras 
Dan tak Memberi-Mu minum 
Ketika badai datang tahun tahun lalu
Bahkan ketika para jelita merongrong nafsuku,
Tak kuhiraukan panggilan-Mu

Duhai Tuhan, ya Tuhanku 
Aku memberi diri pada-Mu 
Sebagai lelaki Jahanam
Yang membunuh para Jenaka
Tak lelah kerudungi malam

Aku datang sebagai pemegang waktu 
Yang tak pernah berhenti berputar -putar 
Mencicipi bubur pagi dan sendagurau 
burung lakamolak* di ujung pohon tuak

Bahkan ketika rusa-rusa Timor 
di Fatule'u berteriak karena jerat nafsu 
Penguasa memamah rembulan senja 
Aku mencabik -cabik tubuh mereka 
Sebagai laksana pagi nan sedap

Di bawah Pohon-Pohon ampupu 
Ku sirami wajah-Mu dengan asap hutan 
Dan semuanya terkapar....

Tuhanku, ya Allahku 
Dalam kesesakan di paru-paru 
Aku hidupi hidupku 
Bersama jamur -jamur jahanam, 
Mereka tumbuh sebagai duri 
Tertanam sejuta tahun lalu.... 
Yang berdiri sebagai batu-batu cadas Golgota 
Lalu mereka menikam kesombonganku 
Sebagai nadi

Aku lelah ya Tuhan.... 
Karena di pagibuta ini 
Aku hanya melihat kantong mayat berserakan 
Aku hanya melihat orang -orang meratap
Bagai ibu hamil tertindih nafsu 
Suara mereka mengerang ketakutan 
Aku hanya melihat kebingungan orang -orang lapar terkapar
Dan ketakutan orang - orang serakah berkata : 
" Tuhan, aku mengaku bersalah...! "

Aku nyaris tak jadi makan pagi 
Karena kasak kusuk media sudah jadi sarapan 
Jeritan orang-orang itu jadi kopi pahit pagi 
Apalagi yang harus kukatakan pada-Mu
Ya Tuhan segala semesta...? 
S E. L. A. 
Nah, marilah ya Tuhan... 
Beberapa pohon tuak sudah ku iris 
Jadi minuman yang enak 
Akan kutuangkan dalam baju kotor ini 
Akan kuberi pada-Mu gigi kotor dan ludah pahit 
Tentu Kau menyukainya....
Marilah bersamaku minum tuak
Dan bakar ikan, pagi....

Lalu akan kuceritakan balada Orang-orang itu
Lalu akan kuceritakan juga balada jiwaku 
Laku akan kuceritakan pada-Mu laut biru 
Bersama nyanyian burung-burung gagak

Mari, kemarilah ya Tuhan... 
Dari dalam rumah kumuh 
dan sampah-sampah berserakan 
Dari paru-paru yang terkurung jamur 
Dari tenggorokan yang tertusuk jamur 
Dari demam tinggi dan batuk batuk 
Karena terjepit jamur 
Ku ajak Dikau duduk bersama 
Meminum tuak 
Untuk membunuh jamur jamur dosa 
dalam tubuhku

Kemarilah ya Tuhanku.... 
Kupersilahkan duduk dan ucapkan :
"selamat menikmati....!"

 





YESUS DI SALIB

Karya ; DEKY SEO

Waktu itu aku di situ,

bersama si Meri tidur tiduran dikamar

Nikmati  birahi yang panjang

dan suguhan doble kiwi dari malam kelam

merangkak diseluruh nadi

 

Dan dari balik dunia itu

Kami saksikan pembunuhan itu,

Keji...tak berperasaan

Cambuk merobek luka yang dalam

Dan darah hitam mengucur deras

Sang Pilatus menyelutuk,

berdiri di salah satu terali kota

Dengan suara gagah dan lantang

Ia bicara pada tembok-tembok kota ;

“kucuran darah Anak Emas ini, bukan tanggunganku”

 

Dengan telanjang kami termangu

Dari bilik terali kamar,

Mata kami beradu....

Seperti cinta dilarat duka,

kulihat wajahu disana bagai terpenjara....

Sedang IA melihat wajah-Nya

penuh bunga-bunga dimataku....

Ya,...dimataku

IA saksikan birahi itu

IA meratapiku dengan berkata ;

“KU tau pengkhianatanmu, Deky ?”

 

Dan kami malu

Lalu kubiarka IA disalib...disalib...!

 

PMedio Mei, (13 Mei 2003)



REUNI

Karya DEKY SEO

 

Ada yang tak mesti ku lupa

Tertawa dengan grogi saat menapakkan kaki pertamakali

Menemui rumput rumput dan nakal anak anak asrama bersendagurau dengan gemericik daunan mahoni, batangan akasia dan kayu puti yang menummpuk di arah timur

 

Ada yang tak mesti kulupa

Bila lonceng asrama menderu

Riuh rendah tubuh atletis berlari, bermimpi hingga menendang bola begitu gemasnya

sedang dibalik jendela mata para guru menggerutu dan menuliskan calon jenazah di tembok tembok kota

dan bila senja itu datang, semua yang tertawa akan berdiri di tiang jauh, menatap duri duri di langit, sambil tersenyum dan berkata ;

“ cepatlah berlari, karena si penjahat itu datang sebelum matahari menjemput langit “

 

Adu juga yang tak mesti kulupakkan

Mengambil sebatang rokok bersama sahabat terkasih, lalu menuliskan nasib di atas cakrawala dan berteriak ; “ lemparkan sauhmu ke sana , maka ikan ikan dari buritan akan menggerutu dan melompat menerjang tertawamu “

 

Dan seketika itu, mata sang guru membening

Bagai mutiara suara cintanya menampar diniding kantin , sementara canda ria anak anak berlari di celah celah mahoni, ia mengambil kapur tulis

Dengan tangan Kekarnya I Mencakar Cadar Cakrawala, dengan cinta emasnya, ia menuliskan nasibku , katanya : “ kaulah yang kupilih, nak, hentikan tangismu karena aku disini didalam detak jantungmu....”

Duhai guru.....jahanam kau.....

Kau membunuh semua emosiku

Tertawaku kau bantai dengan cinta...?

Kau tak lebih dari Yesus, membunuh keangkuhan manusiawiku, dengan airmatamu yang sarat menempel di dinding dinding malam, saat para nasib kau tentukan di malam malammu.....

Cintamu itu tercebur kedalam riuhnya remajaku.....hhhhh....

Ada yang tak mesti kulupa.....

Jam di tanganmu....yah jam itu.....

Mestinya kau gadaikan untuk makan istri dan anak anakmu,

Kenapa tak kau lakukan....


















Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MONOLOG